Situs Sangiran – The Homeland of Java Man

s17
Alat Batu Masif ; Alat batu yang tergolong besar dan tebal

Hayoo siapa yang dulu disuruh cari-cari gambar kayak gini terus ditempel di buku Sejarah??? (Kamu disuruh cari alat flakes tapi di internet banyak banget yang muncul, akhirnya kamu print yang Chopper??!) Besoknya guru Sejarah kamu bilang, Weiii, Tong ini bukan flakes!!!! ULANG!

Oke deh, kali ini saya ingin memberikan review singkat bersama basa-basinya tentang museum yang tak disangka. Hmm, saya mengunjungi musem ini di bulan September 2016 tepatnya ketika saya mendapatkan info lomba bikin teaser wkwkwk iyaaa, jadi saya lagi  iseng-iseng gitu ikutin lomba teaser Instagram yang diadakan oleh Kemdikbud bertajuk LOST IT OR LOVE IT?

Iklan yang dibuat dalam bentuk video ajakan untuk mengikuti lomba tersebut cukup menggoda dan keren sehingga membuat saya menontonnya berkali-kali. Lombanya yaitu bikin teaser seputar warisan budaya Indonesia yang diakui UNESCO, boleh di Candi Borobudur, Prambanan dan Museum Purbakala Sangiran. Nah, ini sih yang bikin sedikit terkejut, saya baru tau kalo ada Museum Purbakala ekekeke, dan yang bikin terkejut lagi setelah di search di google ternyata Museum tersebut terletak di Sragen (Deket banget sama lokasi saya pada saat itu!!)

Waktu itu, saya bahkan udah lupa sama lomba teasernya, yang saya pikirin cuma “boleh juga nih cobain ke sana mumpung belom balik ke Jakarta, lagian emang apaan aja isinya yaa?”

Langsung aja saya ke sana, waktu itu saya ga pengen pake ojek online, as always saya mencoba transportasi umum dahulu. Dari kosan tepatnya area kampus UNS saya naik bus apa pun yang akan melintasi terminal Tirtonadi (Saya memberhentikan segala macam bus dan saya tanyain lewat Terminal Tirtonadi gak? Saya lupa sih bus apa namanya), lalu setelah sampai Tirtonadi, saya mencari telolet bus arah Sragen dan mastiin apakah bus itu melintasi kawasan Kalijambe. Ternyata lewat!

Perjalanannya lumayan seru sih, karena bus ukuran 3/4 yang saya naiki ternyata ditumpangi banyak orang dan supirnya ngebut banget, jadi seru geeeeewlaaak, sampe-sampe diperjalanan ada yang pura-pura keserempet dan terjadi perdebatan kecil antara aktor dan supir ekekeke. Yang saya suka dari perjalanannya adalah waktu itu cuaca cerah tidak terlalu terik dan banyak yang hijau-hijau di kiri-kanan jalan, dengan situasi supir ngebut kaya gitu, makin kenceng aja anginnya-makin adem.

Saya turun di depan gapura Museum Sangiran, Kalijambe. Nah dari gapura, saya naik ojek karena ga ada angkutan umum dan ga mungkin jalan kaki dikarenakan jarak yang jauh yaitu kira-kira 4 km.

S1

Sebelum saya kembali ke zaman Pra-Sejarah, sering kali orang menanyakan “Jadi, siapa sih manusia pertama di Bumi?” Pertanyaan ini sempat membingungkan saya dan menimbulkan “Jadi saya harus percaya yang mana ya?” Membantah adanya manusia purba pun sangat sulit, karena telah ada temuan fosil yang meyakinkan. Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa penafsiran pun muncul.

Beberapa meyakini bahwa nabi Adam a.s adalah manusia pertama di bumi namun beberapa sumber mengatakan bukan. Bantahan tersebut tentunya didukung dengan kitab Al-Quran yang menerangkan bahwa ada makhluk di bumi sebelum nabi Adam a.s. Makhluk tersebut membuat kerusakan dan pertumpahan darah (dikenal manusia purba) sehingga tidak bisa dijadikan khalifah di bumi. Maka dari itu, dilenyapkanlah mereka dan Allah S.W.T menjadikan nabi Adam a.s. sebagai cikal bakal dari manusia sekarang yang hidup lebih baik. (QS: Al-Baqarah:30 ; Fatir: 15-17; Fatir:9)

Oke deh itu dia sekilas infonyaaa, balik lagi yeh

S2
Tangganya ga sempet ke foto 😦

Pertama kali memasuki kawasan ini, saya merasakan kesejukkan tapi cuma sepintas aja. Museum yang diresmikan pada tanggal 15 Desember 2011 oleh Bapak Mohammad Nuh ini memiliki 3 ruang pamer dengan tema pameran yang berbeda-beda.

S13

Setelah membeli tiket seharga 5000 rupiah, saya menuju ruang pameran 1 dan cukup terpukau dengan adanya tangga yang bisa dikatakan lumayan mewah. Menurut saya  interiornya memang indah tinggal kita liat nih bagaimana isi tiap ruangannya.

Ruang pameran 1 (Kekayaan Sangiran) berisi fosil-fosil yang ditemukan oleh beberapa penemu. Di ruangan ini yang menarik perhatian saya adalah koleksi batu-batu giok yang dahulu kala dijadikan sebagai alat berburu. Mengapa saya begitu tertarik? Ahaha karena ketika saya kelas 1 SMA saya sampe bosen banget menghafalkan setiap alat beserta dengan era/masa kapan alat itu dipakai aaaak kadang-kadang suka ketuker-tuker gituuu deeeeh ehehehe. Dokumentasi paling banyak pun ada di area ini. Batu-batu tersebut begitu cantik saat ditempatkan di etalase dengan pencahayaan yang cukup. Jadi, terlihat berkilau. Di ruang ini juga terdapat buku digital yang menjelaskan evolusi manusia purba dengan penjelasan yang sangat detail.

S3
Fosil Gigi dari Gajah Purba
S4
Beberapa penemuan baru yang ditemukan tahun 2015; Gading Gajah, Tulang Belakang Gajah, Rahang Bawah Buaya. Semuanya ditemukan di wilayah Sragen di 3 Dusun yang berbeda.
S8
Ini baru Flakes (Alat batu non masif)

Hmm saya berharap ada guide yang menjelaskan, karena ada beberapa hal yang sebenarnya ingin saya tanyakan, tapi mungkin karena saya bukan rombongan, jadi ga ada guidenya. Alhasil, saya baca-baca sendiri aja deh.

s19
Ini adalah limbah dari batu Gamping Kersikan (sisa dari proses pembuatan alat batu)

Ruang Pamer 2 (Langkah-Langkah Kemanusiaan), Kalau di ruang pamer ini termasuk ruang yang banyak menceritakan banyak hal yang saya sendiri tidak bisa mengingat detailnya. Pencahayaan di ruangan ini agak kurang, hmm atau memang sengaja dibuat demikian untuk menambah kesan dramatis terhadap diorama yang ada. Beberapa yang saya ingat tentang ruangan ini adalah adanya berbagai diorama kegiatan manusia purba yang dibiarkan begitu saja alias tanpa diberi kaca, sehingga pengujung dapat menyentuhnya (tapi jangan dirusak loh yaa). Ruangan ini juga dilengkapi diorama G.H.R. von Koenigswald  yang dikenal menemukan fosil manusia purba yaitu Pithecanthropus erectus.’

S5

S10

s18

Batu di atas namanya “TEXTITE”, yaitu serpihan benda angkasa yang meledak dan jatuh ke Bumi. Benda ini menjadi bukti bahwa masih terjadi ledakan bintang seperti milyaran tahun lalu di Tata Surya.

S11

Tidak hanya itu, penjelasan tentang tata surya dan sedimentasi juga ada di sini. Lengkap banget pokoknya. Namun, saya lebih banyak mendokumentasikan dalam bentuk video dan saya gak bisa lama-lama di ruangan ini karena ruangan ini cepet banget sepinya dan cahaya yang kurang serta adanya diorama membuat saya sedikit parnooo ekekkekekk.

Ruang pamer 3 (Ruang Masa Keemasan Homo erectus),  Ruangan ini ruangan yang “sangat singkat”, hanya berisi diorama namun berbeda dengan diorama sebelumnya. Diorama di ruangan ini dibuat dalam ukuran yang lebih besar yang membawa kesan lebih hidup. Sayangnya, ga banyak yang bisa saya jelaskan di ruangan ini karena tanpa guide (aaak sayang banget deh). Ruangan ini menghadirkan diorama Homo floresiensis. Homo floresiensis ditemukan di goa Leang Boa di Flores dan sempat menimbulkan perdebatan yang ribet sekaleeee. Perdebatan tentang apakah Homo floresiensis termasuk Homo sapiens atau berbeda. Singkatnya, ditemukan bahwa mereka berbeda namun hidup berdampingan.

S15
Homo floresiensis; Tubuhnya pendek, konon katanya cerdas karena sudah mampu menggunakan kayu sebagai alat penunjang untuk memburu.
S16
Kalau aja saya didampingi guide, pasti satu diorama ini mewakili banyak cerita.

Ahaa, itu dia review singkat tentang Museum Purbakala Sangiran. Saya ga bisa mendokumetasikan semuanya, karena saking banyaknya fosil-fosil dan informasi yang ada, bisa-bisa tar blog eike yang kayak Sangiran ekekekeke.  Overall, museum ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal seperti rombongan anak SMP dan SMA. Museum ini menyajikan pengetahuan sejarah yang menurut saya sangat lengkap. FYI, ada sekitar 3 klaster lainnya yang menambah kelengkapan ilmu lewat fosil-fosil tumbuhan, dan tengkorak yang tentunya lebih keren. Sayangnya, antar klaster satu dengan lainnya lumayan berjauhan, jadi tetap harus menggunakan transportasi dan menurut saya untuk menikmati klasternya ga bisa borongan alias ga bisa sehari kelar. Kalau mau mendalami sih paling tidak 2 atau 3 hari dan datang lebih awal, karena jam operasi museum yaitu pukul 08:00 – 16:00 (Selasa-Minggu). Mau coba jelajahin tiap klasternya? So, LOVE IT OR LOST IT?

S12

Advertisements

3 thoughts on “Situs Sangiran – The Homeland of Java Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s